Selasa, 07 Januari 2020

Novel : "THE NATION HOSTAGE" Oleh : Sidiq Akbar Nugraha

Athenia: “Bedebah kau! Jahanam. Aku telah memberikanmu kuasa atas diriku dan seluruh harta kekayaannku dan menjadikan mu pemimpin bagi rakyatku. Sekarang apa kau tega menjual ku?
Dis : “Maafkan saya ibu utangmu pada perompak-perompak itu sudah sangat banyak”
Seribu muka : “Sudahlah ibu diam saja! Ikuti saja apa kemauan perompak itu”

Athenia : “Pengkhianat kalian semua! Selama ini kalian tidur, makan di rumahku, kalian ku beri pekerjaan, sekolah, keamanan, kalian ku biayai hingga ke luar negeri dengan harapan kalian bisa membangun bangsa ini menjadi bangsa yang kuat dan besar. Tapi lihatlah apa yang kalian balas kepadaku”
*********************************
Perompak : (Memukul meja) “Aakh.... lu olang banyak bacot semua lah. Sekarang oe jadi murka! Sekarang lu olang oe kasih dua choice lah. 1. Bayar utang atau 2. Lu olang serahkan negara lu ke oe... pilih mana akh!!
Seribu muka : “Sabar tuan. Sebentar lagi kami pasti berhasil membawa ibu untuk ikut bersama tuan”
Perompak : “Dari ratusan tahun lalu sejak Kartanegara dari Singosari potong telinga oe punya utusan (Meng ki) lu punya ibu sangat cantik waktu masih muda sekarang setelah beberapa abad oe kembali lu punya ibu masih menarik. Dari dulu sampai nanti oe tetap ingin ibumu jadi milik oe.”
Kemudian dis pun kembali mencoba untuk membujuk ibunya sekali lagi.
Dis : “Bu, sudah bu nurut aja bu. Mereka juga punya klaim sejarah selama berabad-abad di Laut Cina Selatan. Mereka juga punya hak sama seperti kita.
Seribu muka : “Benar bu, mereka juga punya hak di Natuna. Kita tak bisa berbuat banyak selain mengajukan protes kepada mereka. Kalau pun hari ini kita melawan. Kita hanya membuang waktu mereka saja”
Athenia (Ibu pertiwi):  "Apa kalian bilang barusan???” Mereka juga punya hak. Aku yang melindunginya. Aku yang merawat dan membesarkannya, Dia tumbuh dewasa bersamaku!! Dengan seenaknya kalian bilang orang-orang asing itu punya hak atas wilayahku. Tidak!! Katakan kepada perompak itu demi Allah aku tak pernah ridho sedikitpun memberikan wilayahku walau mereka meminta hanya setetes atau sejengkal saja.

Dis kemudian memerintahkan ajudannya untuk menghadap ke pasukan perompak
Ajudan : “Maaf tuan. Sepertinya hari ini bukan hari yang tepat untuk berkunjung sebaiknya tuan pulang saja dulu. Sampaikan kepada majikan kalian ibu kami menolak untuk memenuhi permintaan kalian. Silahkan cari ikan di tempat lain saja.”
Dengan wajah marah dan kecewa para perompak
Perompak : “Baik! Hari ini oe sekali lagi pulang dengan tangan hampa sama seperti ratusan tahun yang lalu. Tapi ingat masalah ini belum selesai. Tunggu oe kembali. “
Armada kapal perompak itu pun pulang. Kapal pun mulai melaju. Terdengar sang kapten berteriak dari atas kapal kepada anak buahnya yang tersisa : “Hei, ruguo tamen gao zale. Nimen zhai zheli daiming!”
“Ha!!”
***********************************************************************
Kemesraan dan Ketegangan Lima Abad
Sejumlah catatan sejarah menerakan riwayat panjang tentang pasang surut situasi perdagangan dan keamanan di Laut Cina Selatan. Sejak lima abad silam, setidaknya seperti yang dicatat oleh Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin (2014), perairan ini telah menjadi jalur penting perniagaaan.

Sebagai contoh, saat ketersediaan komoditi pakaian, termasuk sutra dan kapas melimpah, negara-negara Asia Tenggara menjadi konsumen besar suplai pakaian dari India dan Cina. Hal ini terjadi bukan berarti Asia Tenggara tidak punya bahan baku untuk membuat pakaian, tapi kalangan elite mereka menyukai pakaian dari kedua negara tersebut.

“Pakaian India dan Cina dibeli oleh kalangan elite yang lebih kaya berkat warna-warnanya yang cemerlang, polanya yang indah, serta kedudukannya sebagai barang langka. Tapi penduduk setempat pada umumnya selalu memakai pakaian produksi setempat," tulis Reid.

Sebaliknya, Cina juga menjadi pembeli yang cukup tinggi dalam perdagangan kapas yang banyak tersedia di Asia Tenggara. Bahkan kapas menjadi hasil pertanian utama setelah pangan.

Dalam catatannya Reid menerangkan, kapas telah lama ditanam di Asia Tenggara dan diekspor ke Cina. Sejumlah naskah Cina mengabarkan bahwa kapas telah dibawa ke Cina dari Vietnam sejak abad ke-7.

Perdagangan kapas terbesar di sekitar Laut Cina Selatan, termasuk benang dan pakaian, diperkirakan terjadi pada abad ke-13 hingga ke-17. Para pedagang di pedalaman berbondong-bondong membawa barang dagangannya ke pelbagai pelabuhan Asia Tenggara, terutama Vietnam, Luzon, dan Jawa.

Selain pakaian, kapas, dan sutra, komoditi lain yang diperdagangkan di Asia Tenggara adalah emas, perak, besi, keramik, dan lain-lain. Dalam urusan keramik, Cina dari dulu telah terkenal sebagai negara yang lihai dalam membuat barang ini.

Keramik campur kaca berkualitas tinggi diproduksi di Cina dan diperdagangkan di Asia Tenggara dan ke negeri-negeri yang lebih jauh.

“[Keramik-keramik tersebut] dihias dengan indah dan dibakar dengan temperatur yang jauh lebih tinggi daripada yang dilakukan pada tempat pembakaran di Asia Tenggara, piring-piring dan mangkuk-mangkuk ini menjadi barang-barang yang tinggi nilai serta statusnya," imbuh Reid.

Di Filipina, Sulawesi, dan Maluku, keramik dari Cina yang berupa piring dan mangkuk, ditempatkan di sekitar jenazah saat pemakaman untuk menemani yang mati menuju perjalanannya ke dunia lain.

Baca juga: Australia-Indonesia Lakukan Patroli di Laut Cina Selatan
Sementara di Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan, keramik campur kaca digunakan sebagai penghias masjid, makam, dan istana. Namun, bagi orang-orang kaya di Asia Tenggara, keramik Cina tersebut justru dipakai sebagai tempat minum dan makan.

Dalam bukunya yang lain, yakni Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global (2014), Reid juga menyinggung perdagangan lada dan kayu sapan. Menurutnya, kedua komoditas ini adalah produk yang menonjol dalam perniagaan di Nanyang atau Laut Cina Selatan.

Saking banyaknya komoditas lada dan kayu sapan ini dikirim ke Cina, pada abad ke-15 keduanya memenuhi gudang-gudang pemerintah sehingga dipakai untuk membayar sebagian gaji ratusan ribu pejabat dan tentara Cina.   

Aktivitas perdagangan yang berlangsung selama ratusan tahun, membuat kebudayaan sejumlah negara berakulturasi. Denys Lombard mencatat dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia (2005), kebudayaan Cina telah lama memengaruhi negeri-negeri di sekitar Laut Cina Selatan.

“[Berupa] adat-istiadat, kepercayaan, dan teknik-tekniknya, melalui suatu proses asimilasi dan saling pengaruh yang berlangsung selama berabad-abad," tulis Lombard.

Kemesraan di kawasan sekitar Laut Cina Selatan sebagai jalur perniagaan penting bagi sejumlah negara di Asia Tenggara, Cina, Arab, India, dan Eropa, bukan berarti tanpa perseteruan dan konflik.

Namun, yang perlu dicatat adalah saat itu peperangan lebih menekankan pada raihan tawanan daripada harta benda, terutama bagi negara-negara Asia Tenggara. Jumlah penduduk yang belum banyak membuat mereka berlomba memburu tawanan untuk dijadikan sebagai budak.

Sekali waktu, seorang laksamana Belanda memprotes seorang bangsawan Melayu (penguasa Johor) yang menjadi sekutunya yang terlihat ragu memasuki palagan.

“Di sini setiap orang kaya atau bangsawan justru harus membawa sejumlah orang, dan masing-masing takut kehilangan sahayanya, yang merupakan kekayaan mereka satu-satunya," jawab sang bangsawan seperti dicatat Reid.

Kemesraan dan Ketegangan Lima Abad
Sejumlah catatan sejarah menerakan riwayat panjang tentang pasang surut situasi perdagangan dan keamanan di Laut Cina Selatan. Sejak lima abad silam, setidaknya seperti yang dicatat oleh Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin (2014), perairan ini telah menjadi jalur penting perniagaaan.

Sebagai contoh, saat ketersediaan komoditi pakaian, termasuk sutra dan kapas melimpah, negara-negara Asia Tenggara menjadi konsumen besar suplai pakaian dari India dan Cina. Hal ini terjadi bukan berarti Asia Tenggara tidak punya bahan baku untuk membuat pakaian, tapi kalangan elite mereka menyukai pakaian dari kedua negara tersebut.

“Pakaian India dan Cina dibeli oleh kalangan elite yang lebih kaya berkat warna-warnanya yang cemerlang, polanya yang indah, serta kedudukannya sebagai barang langka. Tapi penduduk setempat pada umumnya selalu memakai pakaian produksi setempat," tulis Reid.

Sebaliknya, Cina juga menjadi pembeli yang cukup tinggi dalam perdagangan kapas yang banyak tersedia di Asia Tenggara. Bahkan kapas menjadi hasil pertanian utama setelah pangan.

Dalam catatannya Reid menerangkan, kapas telah lama ditanam di Asia Tenggara dan diekspor ke Cina. Sejumlah naskah Cina mengabarkan bahwa kapas telah dibawa ke Cina dari Vietnam sejak abad ke-7.

Perdagangan kapas terbesar di sekitar Laut Cina Selatan, termasuk benang dan pakaian, diperkirakan terjadi pada abad ke-13 hingga ke-17. Para pedagang di pedalaman berbondong-bondong membawa barang dagangannya ke pelbagai pelabuhan Asia Tenggara, terutama Vietnam, Luzon, dan Jawa.

Selain pakaian, kapas, dan sutra, komoditi lain yang diperdagangkan di Asia Tenggara adalah emas, perak, besi, keramik, dan lain-lain. Dalam urusan keramik, Cina dari dulu telah terkenal sebagai negara yang lihai dalam membuat barang ini.

Keramik campur kaca berkualitas tinggi diproduksi di Cina dan diperdagangkan di Asia Tenggara dan ke negeri-negeri yang lebih jauh.

“[Keramik-keramik tersebut] dihias dengan indah dan dibakar dengan temperatur yang jauh lebih tinggi daripada yang dilakukan pada tempat pembakaran di Asia Tenggara, piring-piring dan mangkuk-mangkuk ini menjadi barang-barang yang tinggi nilai serta statusnya," imbuh Reid.

Di Filipina, Sulawesi, dan Maluku, keramik dari Cina yang berupa piring dan mangkuk, ditempatkan di sekitar jenazah saat pemakaman untuk menemani yang mati menuju perjalanannya ke dunia lain.

Baca juga: Australia-Indonesia Lakukan Patroli di Laut Cina Selatan
Sementara di Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan, keramik campur kaca digunakan sebagai penghias masjid, makam, dan istana. Namun, bagi orang-orang kaya di Asia Tenggara, keramik Cina tersebut justru dipakai sebagai tempat minum dan makan.

Dalam bukunya yang lain, yakni Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global (2014), Reid juga menyinggung perdagangan lada dan kayu sapan. Menurutnya, kedua komoditas ini adalah produk yang menonjol dalam perniagaan di Nanyang atau Laut Cina Selatan.

Saking banyaknya komoditas lada dan kayu sapan ini dikirim ke Cina, pada abad ke-15 keduanya memenuhi gudang-gudang pemerintah sehingga dipakai untuk membayar sebagian gaji ratusan ribu pejabat dan tentara Cina.   

Aktivitas perdagangan yang berlangsung selama ratusan tahun, membuat kebudayaan sejumlah negara berakulturasi. Denys Lombard mencatat dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia (2005), kebudayaan Cina telah lama memengaruhi negeri-negeri di sekitar Laut Cina Selatan.

“[Berupa] adat-istiadat, kepercayaan, dan teknik-tekniknya, melalui suatu proses asimilasi dan saling pengaruh yang berlangsung selama berabad-abad," tulis Lombard.

Kemesraan di kawasan sekitar Laut Cina Selatan sebagai jalur perniagaan penting bagi sejumlah negara di Asia Tenggara, Cina, Arab, India, dan Eropa, bukan berarti tanpa perseteruan dan konflik.

Namun, yang perlu dicatat adalah saat itu peperangan lebih menekankan pada raihan tawanan daripada harta benda, terutama bagi negara-negara Asia Tenggara. Jumlah penduduk yang belum banyak membuat mereka berlomba memburu tawanan untuk dijadikan sebagai budak.

Sekali waktu, seorang laksamana Belanda memprotes seorang bangsawan Melayu (penguasa Johor) yang menjadi sekutunya yang terlihat ragu memasuki palagan.

“Di sini setiap orang kaya atau bangsawan justru harus membawa sejumlah orang, dan masing-masing takut kehilangan sahayanya, yang merupakan kekayaan mereka satu-satunya," jawab sang bangsawan seperti dicatat Reid.

LANJUTAN....
“Lapor yang mulia musuh sudah berhasil dilumpuhkan dan mundur. Akan tetapi musuh meninggalkan lima kapal terakhir di dalamnya ada sekitar 200 pasukan musuh yang tetap tinggal sebagai mata-mata.”
“Baik kalau begitu kerahkan semua armada perang terbaik kita. Keluarkan kekuatan dan peralatan serta teknologi terbaik yang kita miliki. Panglima! Panglima! ke mana Panglima. Panglima! Jenderal
Dengan derap langkah kaki tergesa-gesa seorang pria bertubuh besar lengkap dengan zirah perang dan tanda kebesaran memenuhi seragamnya masuk dengan disambut bunyi terompet pengawal istana dan dikawal oleh prajurit yang membawa panji kerajaan.
“Hamba panglima Zergon memberi hormat kepada Yang Mulia.”
“Cepat! Perintahkan semua armada perang dan seluruh bala tentara di seluruh negeri ini untuk bersiap perang! Awasi terus kemungkinan musuh kembali dengan seluruh kekuatan tempurnya. Halau mereka, aktifkan sistem pelindung.”
“Baik Yang Mulia.”
“Bagus. Cepat laksanakan!”

“Dan hei panglima Zergon bukankah kau panglima terbaik kerajaan?? Apa rencanamu untuk menang dalam perang kali ini”
“Maaf Yang Mulia hamba tidak pantas menerima pujian dari Yang Mulia. Maaf Yang Mulia untuk strategi perang seperti kebiasaan saya Yang Mulia ini adalah rahasia negara Yang Mulia. Hamba mohon permisi Yang Mulia.”
Namun rupanya si Seribu Muka yang ikut dalam pertemuan di aula itu. Diam-diam memisahkan diri dan melaporkan apa yang di dengarnya kepada perompak Xin
“Cepat... cepat.. cepat! Apa yang kau ingin katakan sebelum kau menemui penciptamu.”
“Akkkh... aaakh (jeritan menahan cekikan) si Seribu mata berkata dengan lirih.”Maafkan saya tuan. Maaf kalau rencana kita kembali gagal. Tapi saya punya ide brilian tuan.”
“Apa... Apa... Apa.. Cepat katakan! Atau kau ku jadikan makanan buaya.”
Si perompak Xin lalu melepas cekikannya dari muka seribu. Muka seribu kemudian menceritakan semua strategi yang ada dikepalanya.
Si muka seribu mengambil segelas air putih dan menarik nafas lalu mulai bercerita.
“Begini tuan. Kita biarkan Dis berperang melawan Ksatria Putih dan panji Hitam. Setelah mereka mulai lemah karena tenaga mereka yang terkuras dan athenia menjadi kacau kita serang mereka. Kita kirim surat agar Dis mencekal Ksatria Putih di Mekkah kita buat umat Islam marah besar.“
“Ummmmchahahahahahah..... Hihihihi..... bagus. Bagus aku suka idemu muka seribu. Aku tak heran mengapa kau disebut muka seribu. “
“Kenapa tuan?”
“Karena dibalik wajah dekilmu yang hitam jelek ternyata kau memiliki otak yang encer. Pantas saja kau jadi penjilat. Pekerjaan itu sangat cocok untukmu.
“Ummmmmmchahahahahhahaha.... Hihihihih.... Xixixi” pekik tawa jahat sang Perompak diikuti anak buahnya yang menertawai Si Muka Seribu.
“Baiklah kalau begitu aku akan menunggu sampai kau berhasil. Tapi awas! Jika kali ini kau gagal lagi maka kepalamu yang aku gantung di tembok ruangan ku.” (sambil memakan jari manusia)
Muka Seribu (menelan ludah)
BERSAMBUNG DULU YA GUYS......

Part 2
Maka kembalilah sang pengkhianat si Muka Seribu ke Athenia ia kemudian melaporkan perjalanannya kepada Dis.
“Hei Gulom saudaraku (Muka Seribu) kemana saja kau beberapa hari ini?”
“Maafkan hamba Yang Mulia Paduka Raja karena hamba tidak memberitahukan kepergian hamba kepada Yang Mulia. Atas inisiatif hamba sendiri karena kecintaan terhadap bangsa dan negaraku. Saya lantas pergi menyelidiki perompak Xin.”
“Wahai saudaraku sungguh mulia dan beraninya tindakanmu itu. Bukankah itu sama saja dengan mengundang kematianmu sendiri?”
“Benar yang mulia. Memang benar perjalanan hamba sangat beresiko dan bisa mengancam keselamatan hamba. Tapi demi tanah air hamba siap korbankan nyawa hamba.”
“Semoga Alloh merahmatimu. Katakan wahai saudaraku apa saja yang kau dapatkan dari perjalananmu.”
Maka si muka seribu mulai melancarkan aksinya mengadu domba antara Dis dan Ksatria Putih serta panji Hitam.
“Sebenarnya tuanku Yang Mulia Paduka Raja perompak negeri xin tidak bermaksud lancang paduka.”
“Apa maksudmu!”
“\Sebenarnya para perompak hanya terhasut oleh fitnah Ksatria Putih”
Lalu Muka seribu mengeluarkan sebuah surat dari perompak xin. Dengan hormat kepada Yang Mulia Paduka Raja.
“Sebelumnya kami meminta maaf karena terjadi kesalahpahaman yang kami lakukan hanya mengamankan wilayah kekuasaan kami. Beberapa waktu lalu kami menerima surat dari seseorang di Mekkah bernama Ksatria Putih. Dari informasinya itu kami mendapatkan bahwa Paduka Raja ingin merebut Pulau, kami jadi untuk mengamankan hak milik kami. Kami mengirim pasukan yang berpura-pura menyamar sebagai nelayan tradisional di perairan tersebut. Selain itu seorang yang bernama panji Hitam mengaku sebagai utusan kerajaan dan membawa plakat kesultanan ia  mengaku diperintahkan langsung oleh Yang Mulia Paduka Raja untuk memerangi Kerajaan Xin atas tuduhan kejahatan melakukan persekusi dan pembersihan etnis Uigh. Atas kesalahpahaman ini kami mengajukan nota keberatan atas protes negara Athenia dan meminta yang Mulia untuk membuat surat klarifikasi dan ganti rugi atas kerugian materil dan non-materil yang kami (Xin) alami akibat konfrontasi Laut Cina Selatan. Kami menunggu itikad baik Yang Mulia Paduka Raja melalui surat permintaan maaf dan ganti rugi 2x24 jam. Jika tidak kami akan membawa persoalan ini ke jalur hukum internasional. Sekian dan terima kasih” 
Dis (memegang surat sambil tangannya bergetar dan memerah). Setelah selesai membaca surat itu Dis menendang meja emas miliknya dan kembali duduk di singgasananya.
“Plak!”
“Kurang ajar!”
“Apa benar yang ditulis oleh panglima Xin itu!” (membentak dengan suara marah dan mata merah melotot)
“Ya Yang Mulia. Ampun jika hamba lancang Yang Mulia, namun kali ini hamba membenarkan.”
“Kurang Ajar!”
“Pati! Pati! Pati Dianus” (Pati = pimpinan wilayah, pejabat negara, asisten/orang kepercayaan Raja)
“Hamba memberi hormat Yang Mulia”
“Pati Dianus. Ku perintahkan kau untuk menangkap Si Kriminal Panji Hitam bawa ke hadapanku hidup atau mati!”
“Baik Yang Mulia. Perintah Yang Mulia akan segera saya laksanakan.”
“Perdana Menteri  Porus!.”
“Hamba Yang Mulia”
“Kirim surat pencekalan kepada Ksatria Putih di tanah Arab. Buat fitnah jika Ksatria Putih adalah teroris internasional yang kita cari. Sebar pengumuman di dalam dan luar negeri pemerintah akan memberikan 600 juta golden keping emas bagi siapa saja yang membawa kepala Panji Hitam ke istana Athenia.”

“Baik Yang Mulia. Amanah Yang Mulia akan saya laksanakan dengan baik yang Mulia.”

BERSAMBUNG DI HALAMAN SELANJUTNYA...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESUCIAN YANG TERGADAIKAN

KESUCIAN YANG TERGADAIKAN PENULIS Sebenarnya aku benci bila harus menceritakan kembali kisah hidupku yang sangat menyedihkan ini. Sering...