Sabtu, 04 Januari 2020

Cerpen Jalan Hijrah Part 1 : Nikah

Hari ini tepat 4 tahun kami pacaran di masing-masing jari manis kami ada cincin bertuliskan nama kami berdua Adrian (rian) dan Anissa (ica) sebagai bukti cinta kami. Hubungan kami selalu romantis bagaikan baru jadian kemarin hampir tiap hari aku memberikan hadiah untuk anissa yang ku beli sesuai dengan isi dompetku. Meskipun itu bukan hari ulang tahun anissa di whatsapp kami pun penuh dengan kata-kata romantis panggilan ayah dan bunda. Namun akhir-akhir ini selama beberapa bulan Anissa terus gelisah memintaku untuk segera menikahinya. Sebagai seorang laki-laki aku mau saja melamarnya dan sudah niatku dari awal tapi sebagai pemuda miskin yang hanya bekerja sebagai pengawas teknisi PLN gaji ku tidak memungkinkan untuk menikah dalam waktu dekat. Apalagi ayahku hanya seorang penarik becak dan ibuku penjual gorengan. Mereka sudah mulai tua dan sakit-sakitan ibuku memiliki cita-cita ingin naik haji yang harus segera ku wujudkan. Tak ayal aku bekerja dari pagi hingga pulang larut malam demi bisa menabung untuk memberangkatkan ibu dan bapak naik haji. Aku juga harus membiayai pendidikan adik-adikku. Aku dan Anissa bagaikan antara langit dan bumi aku hanyalah teknisi listrik seorang pemuda miskin sedangkan Anissa anak orang kaya, ayahnya adalah bos perusahaan besi dan baja. Namun cinta tak memandang status meskipun hubungan kami selalu ditentang dan aku sering dihina dan dipandang sebelah mata oleh ayah Anissa namun kami tetap bertahan karena ada rasa nyaman yang kami rasakan di saat kami berdekatan satu sama lain dan rindu di saat kami berjauhan. Hari ini hari anniversary kami ke-4 tahun Anissa mengajakku untuk makan malam di sebuah restoran mahal. Sebuah tempat yang menurutku mewah dan tak bisa jika aku yang membayar untuk makan di tempat mahal karena gaji ku yang rendah. Untungnya setiap kali kami makan Anissa selalu mengerti. Tapi lama kelamaan sebagai seorang lelaki di satu sisi aku malu karena dibayarin makan oleh cewek. Tapi di sisi lain aku terpaksa harus mengelus dada dan terpaksa cuman bisa melihat Anissa terus mengeluarkan uang dari kartu ATM nya untuk membiayaiku karena keadaan ku yang serba tidak cukup. Ada perasaan malu sebagai seorang lelaki harusnya aku yang memenuhi kebutuhan Anissa atau paling tidak aku yang membelikan Anissa sesekali bukan malah sebaliknya. Aku merasa layaknya seorang lelaki murahan sejak mulai mendapat barang-barang mahal dari Anissa bahkan bukan cuman itu Anissa pun membelikan ku sebuah jam tangan mewah senilai 3,500.000U$$ dollar hadiah yang fantastis di hari ulang tahun ku. Anissa juga membeli sebuah rumah untuk pernikahan kami nanti dan sebuah apartemen untukku Anissa bahkan tiap hari meminjamkan mobilnya padaku. Aku sudah bilang sama Anissa :“Nis. Aa mohon sama anissa, jangan terlalu sering ngeluarin duit buat Aa. Aa malu Neng, nanti Aa dikira morotin duit Eneng sama papa dan mama Neng.”
“Ih.. kenapa sih Aa? Udah Aa nggak usah malu, nggak usah tensin. Ini semua Neng lakukan karena Neng sayang dan cinta sama Aa. Apapun akan Neng lakukan.”
“Inikan Neng lakukan demi masa depan kita nanti.”
“Iya Neng, Aa tau. Tapi Aa ini laki-laki Neng. Punya tanggungjawab untuk nafkahin Neng nanti.”
Sambil memegang tanganku dan menaruh di pipinya

“Udah Aa. Aa tenang aja itu tanggungjawab Aa setelah kita nikah nanti. Neng nggak akan larang Aa  untuk penuhi tanggungjawab Aa sebagai seorang suami. Tapi Neng nggak akan maksa kalau Aa nggak bisa atau Aa hanya bisa kasih Neng seadanya. Terserah apa kata orang, toh yang jalanin kita berdua. Asal sama Aa itu udah lebih dari cukup bagi Neng. Soal rezeki kita cari sama-sama.”
“Sekarang neng teh butuh kepastian Aa aja. Kapan atuh Aa lamar Neng??”
Sambil menelan ludah. Sebenarnya aku ingin sekali menikah. Tapi aku belum bisa sebelum memberangkatkan umroh kedua orangtuaku.
“Iya. Sabar neng. Aa tanya ambu dulu ya?”
“Iya Neng juga nggak paksa Aa untuk jawab sekarang. Tapi Neng cuman pengen lihat keseriusan Aa berjuang untuk Neng.”
“Iya Neng, Aa sayang banget sama Neng tapi neng mesti mengerti sebagai anak sulung dan laki-laki Aa punya tanggungjawab bahagiakan orangtua. Sekarang ambu sama bapak sudah tua sudah mulai sakit-sakitan Aa hanya pengen mewujudkan cita-cita mereka naik haji. Aa juga ingin terus berbakti sama mereka. Aa pengen membahagiakan mereka dengan beli rumah yang layak untuk mereka.”
“Kalau gitu biar Neng aja yang belikan rumah buat mereka. Ya. Boleh kan Aa. Aa nggak marahkan.”
“Jangan Neng ini tanggungjawab Aa.”

“Aa tersinggung ya?”
“Nggak Neng, Aa nggak tersinggung sama sekali, nggak. Aa cuman nggak mau ada penilaian dan konotasi negatif dari orangtua kamu ke Aa. Kalau selama ini Aa hanya manfaatin kamu doang.”

Malam hari aku pulang dengan muka kusut. Raut wajah murung membuat ibu bertanya kepadaku.
“Nak, kenapa muka kamu kusut seperti itu. Kamu punya masalah ya?”
“Nggak kok bu, nggak ada masalah.”
“Nak, kamu jangan bohong. Ibu ini yang melahirkan kamu jadi ibu tau semua sifat kamu. Nak, ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong.”


“Udah bu, nggak ada apa-apa kok.”
“Ya udah kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa. Kamu mandi dulu terus makan malam. Ibu udah masakin makanan kesukaan kamu.”
“Makasih ya bu.”
Ibu pun berlalu kembali ke kamarnya. Ada rasa penyesalan. “Ah kenapa aku harus berbohong pada ibu.” Kesal ku dalam hati. Lalu aku memanggil ibu ku kembali ku dudukan di kursi dan memijat kakinya setelah menghela nafas panjang aku mulai cerita pada ibu.
“Bu. Sebenarnya adrian lagi galau bu, Anissa meminta aku untuk segera melamarnya. Tapi aku belum bisa sebelum aku bisa memberangkatkan ibu dan bapak pergi umroh.”
“Udah nggak apa-apa kok, ibu dan bapak memang berpikir dari awal untuk hal seperti ini. Ibu dan bapak ikhlas kok kalau nggak jadi berangkat umroh.”
“Tapi bu..”
Bapak yang sedari tadi menguping pembicaraan kami keluar dan menyela.
“Udah Rian. Kamu dengar kata-kata ibumu kami berdua ikhlas kalau memang harus batal.”
“Nggak, pokoknya ibu dan bapak tetap jadi berangkat. Soal lamaran biar kita bicarakan setelah ibu sama bapak pulang dari tanah suci.”
Malam pun berlalu aku terus memikirkan bagaimana cara agar ibu bapak tetap umroh namun aku juga bigung jika terus di desak oleh Anissa untuk segera melamar. Tabunganku hanya cukup untuk memberangkatkan umroh ibu dan bapak. Alhamdulillah karena di PLN ada program umroh karyawan dan staff serta direksi pimpinan plus keluarga. Memang di setiap perusahaan BUMN selalu ada kegiatan akhir tahun biasanya paket jalan-jalan dan umroh bagi karyawan dan direksi yang beragama Islam, paket jalan-jalan dan wisata rohani ke Israel dan Vatikan bagi karyawan dan direksi yang beragama Nasrani serta paket liburan bersama seluruh karyawan, staff dan direksi PLN ke bali, lombok dan eropa. Tahun ini aku mendapat giliran tiket memberangkatkan umroh diriku plus 2 anggota keluarga karena bapak dan ibu masih hidup sudah waktunya untuk aku mewujudkan impian mereka pergi umroh bulan September ini.
Keesokan paginya jam 06.00 aku sudah harus berangkat kerja lebih cepat agar tidak terjebak macet. Sebelum ke kantor aku harus menjemputnya di rumahnya dan mengantarnya ke rumah sakit tempat ia bekerja. Maklumlah aku harus jadi sopirnya dan sebagai gantinya mobil pribadinya aku pakai ke mana-mana.
“Selamat pagi apa benar ini dengan saudara Adrian?”
“Iya pak benar dengan saya sendiri, ada apa ya pak?”

“Apa benar Anda keluarga Dennis Saputra?”
“Iya pak, ada apa ya pak?”
“Keluarga Anda mengalami tabrakan dan sekarang sedang di rumah sakit. Menurut para saksi anak Anda menabrak seorang pengendara motornya hingga tewas. Anda diharapkan segera datang ke kantor kepolisian guna penyelidikan lebih lanjut.”
“Sekarang adik saya ada di mana?”
“Sekarang adik Anda dalam keadaan tidak sadarkan diri dan dilarikan ke R.S Medika”
“Terimakasih.  Saya akan segera ke sana?”

“Ada apa sayang.”
“Aduh.. sepertinya kita harus buru-buru ke rumah sakit tempat kamu deh sayang.”
“Loh emangnya ada apa. Bukannya kita mau sarapan  dulu kan  kamu belum makan?”
“Adik aku si Dennis kecelakaan.. sekarang dia ada di rumah sakit Medika.”
“Astaga.. duh.. kamu yang sabar ya sayang. Sebentar aku telepon frans dulu kumpulin dokter dan perawat terbaik. Kamu nggak usah khawati Inshaallah dennis baik-baik aja.”

“Assalamu alaikum ambu, abah bagaimana keadaan Dennis.”
“Adrian... adik kamu.” Suara tangis ibu aku pun langsung memeluk ibuku.
“Gimana dok, keadaan adik saya?”
“Adik Anda baik-baik saja hanya kepalanya agak retak untungnya tidak sampai mencedarai otaknya. Perlu tindakan operasi untuk memulihkan kesadaran pasien. Sebaiknya Anda  segera konfirmasi pembayaran agar tindakan operasi bisa dilakukan secepatnya”
“Makasih dok.”
“Aduh adrian. Bagaimana ini kepala bapak mau pecah lihat kelakuan nakal adik kamu tuh. Sekarang adik kamu kritis dan keluarga korban meninggal yang ditabraknya minta tanggungjawab Rp. 10 Juta kalau nggak perkara tetap di proses dan si Dennis bakal masuk penjara. Gimana nih Adrian!!”
“Bapak yang sabar ya pak, bu.”
“Gimana mau sabar Adrian!! Gimana mau sabar. Makan aja kita pas-pasan apalagi ganti rugi 10 juta dan bayar rumah sakit ini???”
“Soal itu nanti Adrian yang ganti. Pakai gaji adrian”
Selama seminggu aku pulang balik rumah sakit dan kantor kepolisian mengurus Dennis.
“Bagaimana sus. Total biaya rumah sakit semua berapa?”
“Untuk biaya operasi bedah Rp. 25.000.000,- untuk menginap di kamar VIP selama seminggu Rp. 85.000.000,- total Rp. 110.000.000,- ya pak. Untuk pengguna BPJS gratis ya pak hanya iuran 50% ya pak. Untuk pembayaran bisa di langsung atau via ATM”
“Makasih sus. Ya Allah ke mana aku harus pinjam uang sebanyak itu?”
Karena sudah masuk waktu dzuhur aku ke mesjid untuk sholat. Selesai sholat aku langsung ke kepolisian dan kejaksaan untuk mengatur damai dengan keluarga korban dan memberikan uang sebesar 10 juta untuk ganti rugi. Setelah selesai aku langsung mencari pinjaman dana dan menjual motor yang aku punya dan kembali ke rumah sakit.
“Jadi gimana sus. Uangnya sudah ada saya mau bayar biaya rawat adik saya.” Sambil menyerahkan amplop berwarna coklat yang sangat tebal berisi uang aku memegang kepala dan mengernyitkan alis. “Ya Allah terpaksa uang untuk umroh bapak sama ibu aku pakai.”
“Tunggu sebentar ya mas. Saya cek dulu.”
“Maaf mas, sistem kami sepertinya sudah mengkonfirmasikan kalau mas sudah melakukan pelunasan sebesar Rp. 110.500.000.- dengan kode registrasi PK 009.0737.101 pada tanggal 21 Agustus 2019. Pukul 10.00 WIB atas nama N.Y Anissa Lestari dan T.N Adrian Wijaya.”
“Udah lunas ya mbak. ”
“Astaga Anissa.” gumam ku dalam hati
“Makasih mbak”
“Terimakasih karena telah memilih rumah sakit kami sebagai mitra sehat Anda.”

**********************************************************************
“Halo mas. kamu lagi dimana?”
“Aku baru selesaikan administrasi rumah sakit.”
“Oh.. gitu. Tunggu aku di lobi ya mas. kita makan siang bareng ini masih sisa satu pasien lagi. Sebentar ya mas, nggak lama kok”
“Iya. Aku nggak bakal kemana-mana kok sampai pacar kesayangan aku turun.”

“Ihh.. gombal. Love you.”
“Love you to.
“Ummmmch”
Aku hanya tersenyum. Selesai Anissa menutup ponselnya aku menghela napas. Aku harus jujur sama Nisa. Kami pun pergi makan siang. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke tempat makan favorit Nissa. Nissa penggemar masakan korea dan jepang sampai di resto aku biarkan Nissa mencari tempat duduk  setelah duduk nyaman kami pun mulai ngobrol.
“Eh kamu tau nggak sayang ini tempat makan favorit aku dari aku kuliah dulu.”
“Kamu mau pesan apa?”
“Terserah kamu deh.
“Mas pesan kimchi spesial ekstra pedas, bibimbap, bulgogi dua porsi sama minuman.”
“Sayang”
“Eh.. sayang tau nggak aku sudah siapin sovenir pernikahan kita lucu kan.” Sambil menunjukkan sebuah bingkisan parsel dengan aksesoris bernilai jutaan dollar dan patung pengantin bernamakan Adrian dan Anissa. Karena Anissa terlalu cerewet aku hampir lupa dengan apa yang aku ingin sampaikan.
“Sayang... bisa tenang sebentar nggak. Aku pengen ngomong.”
“Ya udah ngomong aja honey bee ku”
“Nis... kamu kan yang bayar semua biaya rumah sakitnya Dennis. Aku kan udah bilang aku cuman jaga supaya orangtua kamu nggak mikir yang macem-macem ke aku. Nanti mereka kira aku manfaatin kamu.”
“Kenapa sih!! Selalu gini biar bagaimana pun sebentar lagi adik-adik kamu jadi adik-adik aku juga. Orangtua kamu jadi orang tua aku juga. Sebentar lagi kita jadi keluarga besar. Kenapa kamu marah ya.”
“Jelas salah!”
“Ya udah aku mau pulang aja.”
“Nis.. Nis... udah dong jangan ngambek. Oke maafin aku oke,”
Selesai makan aku langsung mengantar anissa kembali ke rumah sakit. Seminggu kemudian setelah Dennis sembuh. Ibu dan bapak berangkat umroh. Sore ini aku juga harus ke eropa mendampingi bosku untuk berkunjung ke Pembangkit listrik tenaga udara di Belanda dan Skotlandia ini kunjungan pertamaku ke luar negeri setelah naik jabatan jadi staff manajer.

“Kamu hati-hati ya sayang.”
“Iya. Roni kamu jangan nakal, sekolah yang benar, kerjain P.R, sholat, ngaji. Nurut sama kak Nisa”
“Iya bang.”
“Nis... titip adik-adikku ya. Seminggu lagi aku balik.”
“Dah sayang.”
“Dadah”
Taksi pun melaju menuju ke airport aku melambaikan tangan ke mereka lewat jendela.
BERSAMBUNG.....













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESUCIAN YANG TERGADAIKAN

KESUCIAN YANG TERGADAIKAN PENULIS Sebenarnya aku benci bila harus menceritakan kembali kisah hidupku yang sangat menyedihkan ini. Sering...