Selasa, 07 Januari 2020

Novel : "THE NATION HOSTAGE" Oleh : Sidiq Akbar Nugraha

Athenia: “Bedebah kau! Jahanam. Aku telah memberikanmu kuasa atas diriku dan seluruh harta kekayaannku dan menjadikan mu pemimpin bagi rakyatku. Sekarang apa kau tega menjual ku?
Dis : “Maafkan saya ibu utangmu pada perompak-perompak itu sudah sangat banyak”
Seribu muka : “Sudahlah ibu diam saja! Ikuti saja apa kemauan perompak itu”

Athenia : “Pengkhianat kalian semua! Selama ini kalian tidur, makan di rumahku, kalian ku beri pekerjaan, sekolah, keamanan, kalian ku biayai hingga ke luar negeri dengan harapan kalian bisa membangun bangsa ini menjadi bangsa yang kuat dan besar. Tapi lihatlah apa yang kalian balas kepadaku”
*********************************
Perompak : (Memukul meja) “Aakh.... lu olang banyak bacot semua lah. Sekarang oe jadi murka! Sekarang lu olang oe kasih dua choice lah. 1. Bayar utang atau 2. Lu olang serahkan negara lu ke oe... pilih mana akh!!
Seribu muka : “Sabar tuan. Sebentar lagi kami pasti berhasil membawa ibu untuk ikut bersama tuan”
Perompak : “Dari ratusan tahun lalu sejak Kartanegara dari Singosari potong telinga oe punya utusan (Meng ki) lu punya ibu sangat cantik waktu masih muda sekarang setelah beberapa abad oe kembali lu punya ibu masih menarik. Dari dulu sampai nanti oe tetap ingin ibumu jadi milik oe.”
Kemudian dis pun kembali mencoba untuk membujuk ibunya sekali lagi.
Dis : “Bu, sudah bu nurut aja bu. Mereka juga punya klaim sejarah selama berabad-abad di Laut Cina Selatan. Mereka juga punya hak sama seperti kita.
Seribu muka : “Benar bu, mereka juga punya hak di Natuna. Kita tak bisa berbuat banyak selain mengajukan protes kepada mereka. Kalau pun hari ini kita melawan. Kita hanya membuang waktu mereka saja”
Athenia (Ibu pertiwi):  "Apa kalian bilang barusan???” Mereka juga punya hak. Aku yang melindunginya. Aku yang merawat dan membesarkannya, Dia tumbuh dewasa bersamaku!! Dengan seenaknya kalian bilang orang-orang asing itu punya hak atas wilayahku. Tidak!! Katakan kepada perompak itu demi Allah aku tak pernah ridho sedikitpun memberikan wilayahku walau mereka meminta hanya setetes atau sejengkal saja.

Dis kemudian memerintahkan ajudannya untuk menghadap ke pasukan perompak
Ajudan : “Maaf tuan. Sepertinya hari ini bukan hari yang tepat untuk berkunjung sebaiknya tuan pulang saja dulu. Sampaikan kepada majikan kalian ibu kami menolak untuk memenuhi permintaan kalian. Silahkan cari ikan di tempat lain saja.”
Dengan wajah marah dan kecewa para perompak
Perompak : “Baik! Hari ini oe sekali lagi pulang dengan tangan hampa sama seperti ratusan tahun yang lalu. Tapi ingat masalah ini belum selesai. Tunggu oe kembali. “
Armada kapal perompak itu pun pulang. Kapal pun mulai melaju. Terdengar sang kapten berteriak dari atas kapal kepada anak buahnya yang tersisa : “Hei, ruguo tamen gao zale. Nimen zhai zheli daiming!”
“Ha!!”
***********************************************************************
Kemesraan dan Ketegangan Lima Abad
Sejumlah catatan sejarah menerakan riwayat panjang tentang pasang surut situasi perdagangan dan keamanan di Laut Cina Selatan. Sejak lima abad silam, setidaknya seperti yang dicatat oleh Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin (2014), perairan ini telah menjadi jalur penting perniagaaan.

Sebagai contoh, saat ketersediaan komoditi pakaian, termasuk sutra dan kapas melimpah, negara-negara Asia Tenggara menjadi konsumen besar suplai pakaian dari India dan Cina. Hal ini terjadi bukan berarti Asia Tenggara tidak punya bahan baku untuk membuat pakaian, tapi kalangan elite mereka menyukai pakaian dari kedua negara tersebut.

“Pakaian India dan Cina dibeli oleh kalangan elite yang lebih kaya berkat warna-warnanya yang cemerlang, polanya yang indah, serta kedudukannya sebagai barang langka. Tapi penduduk setempat pada umumnya selalu memakai pakaian produksi setempat," tulis Reid.

Sebaliknya, Cina juga menjadi pembeli yang cukup tinggi dalam perdagangan kapas yang banyak tersedia di Asia Tenggara. Bahkan kapas menjadi hasil pertanian utama setelah pangan.

Dalam catatannya Reid menerangkan, kapas telah lama ditanam di Asia Tenggara dan diekspor ke Cina. Sejumlah naskah Cina mengabarkan bahwa kapas telah dibawa ke Cina dari Vietnam sejak abad ke-7.

Perdagangan kapas terbesar di sekitar Laut Cina Selatan, termasuk benang dan pakaian, diperkirakan terjadi pada abad ke-13 hingga ke-17. Para pedagang di pedalaman berbondong-bondong membawa barang dagangannya ke pelbagai pelabuhan Asia Tenggara, terutama Vietnam, Luzon, dan Jawa.

Selain pakaian, kapas, dan sutra, komoditi lain yang diperdagangkan di Asia Tenggara adalah emas, perak, besi, keramik, dan lain-lain. Dalam urusan keramik, Cina dari dulu telah terkenal sebagai negara yang lihai dalam membuat barang ini.

Keramik campur kaca berkualitas tinggi diproduksi di Cina dan diperdagangkan di Asia Tenggara dan ke negeri-negeri yang lebih jauh.

“[Keramik-keramik tersebut] dihias dengan indah dan dibakar dengan temperatur yang jauh lebih tinggi daripada yang dilakukan pada tempat pembakaran di Asia Tenggara, piring-piring dan mangkuk-mangkuk ini menjadi barang-barang yang tinggi nilai serta statusnya," imbuh Reid.

Di Filipina, Sulawesi, dan Maluku, keramik dari Cina yang berupa piring dan mangkuk, ditempatkan di sekitar jenazah saat pemakaman untuk menemani yang mati menuju perjalanannya ke dunia lain.

Baca juga: Australia-Indonesia Lakukan Patroli di Laut Cina Selatan
Sementara di Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan, keramik campur kaca digunakan sebagai penghias masjid, makam, dan istana. Namun, bagi orang-orang kaya di Asia Tenggara, keramik Cina tersebut justru dipakai sebagai tempat minum dan makan.

Dalam bukunya yang lain, yakni Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global (2014), Reid juga menyinggung perdagangan lada dan kayu sapan. Menurutnya, kedua komoditas ini adalah produk yang menonjol dalam perniagaan di Nanyang atau Laut Cina Selatan.

Saking banyaknya komoditas lada dan kayu sapan ini dikirim ke Cina, pada abad ke-15 keduanya memenuhi gudang-gudang pemerintah sehingga dipakai untuk membayar sebagian gaji ratusan ribu pejabat dan tentara Cina.   

Aktivitas perdagangan yang berlangsung selama ratusan tahun, membuat kebudayaan sejumlah negara berakulturasi. Denys Lombard mencatat dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia (2005), kebudayaan Cina telah lama memengaruhi negeri-negeri di sekitar Laut Cina Selatan.

“[Berupa] adat-istiadat, kepercayaan, dan teknik-tekniknya, melalui suatu proses asimilasi dan saling pengaruh yang berlangsung selama berabad-abad," tulis Lombard.

Kemesraan di kawasan sekitar Laut Cina Selatan sebagai jalur perniagaan penting bagi sejumlah negara di Asia Tenggara, Cina, Arab, India, dan Eropa, bukan berarti tanpa perseteruan dan konflik.

Namun, yang perlu dicatat adalah saat itu peperangan lebih menekankan pada raihan tawanan daripada harta benda, terutama bagi negara-negara Asia Tenggara. Jumlah penduduk yang belum banyak membuat mereka berlomba memburu tawanan untuk dijadikan sebagai budak.

Sekali waktu, seorang laksamana Belanda memprotes seorang bangsawan Melayu (penguasa Johor) yang menjadi sekutunya yang terlihat ragu memasuki palagan.

“Di sini setiap orang kaya atau bangsawan justru harus membawa sejumlah orang, dan masing-masing takut kehilangan sahayanya, yang merupakan kekayaan mereka satu-satunya," jawab sang bangsawan seperti dicatat Reid.

Kemesraan dan Ketegangan Lima Abad
Sejumlah catatan sejarah menerakan riwayat panjang tentang pasang surut situasi perdagangan dan keamanan di Laut Cina Selatan. Sejak lima abad silam, setidaknya seperti yang dicatat oleh Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin (2014), perairan ini telah menjadi jalur penting perniagaaan.

Sebagai contoh, saat ketersediaan komoditi pakaian, termasuk sutra dan kapas melimpah, negara-negara Asia Tenggara menjadi konsumen besar suplai pakaian dari India dan Cina. Hal ini terjadi bukan berarti Asia Tenggara tidak punya bahan baku untuk membuat pakaian, tapi kalangan elite mereka menyukai pakaian dari kedua negara tersebut.

“Pakaian India dan Cina dibeli oleh kalangan elite yang lebih kaya berkat warna-warnanya yang cemerlang, polanya yang indah, serta kedudukannya sebagai barang langka. Tapi penduduk setempat pada umumnya selalu memakai pakaian produksi setempat," tulis Reid.

Sebaliknya, Cina juga menjadi pembeli yang cukup tinggi dalam perdagangan kapas yang banyak tersedia di Asia Tenggara. Bahkan kapas menjadi hasil pertanian utama setelah pangan.

Dalam catatannya Reid menerangkan, kapas telah lama ditanam di Asia Tenggara dan diekspor ke Cina. Sejumlah naskah Cina mengabarkan bahwa kapas telah dibawa ke Cina dari Vietnam sejak abad ke-7.

Perdagangan kapas terbesar di sekitar Laut Cina Selatan, termasuk benang dan pakaian, diperkirakan terjadi pada abad ke-13 hingga ke-17. Para pedagang di pedalaman berbondong-bondong membawa barang dagangannya ke pelbagai pelabuhan Asia Tenggara, terutama Vietnam, Luzon, dan Jawa.

Selain pakaian, kapas, dan sutra, komoditi lain yang diperdagangkan di Asia Tenggara adalah emas, perak, besi, keramik, dan lain-lain. Dalam urusan keramik, Cina dari dulu telah terkenal sebagai negara yang lihai dalam membuat barang ini.

Keramik campur kaca berkualitas tinggi diproduksi di Cina dan diperdagangkan di Asia Tenggara dan ke negeri-negeri yang lebih jauh.

“[Keramik-keramik tersebut] dihias dengan indah dan dibakar dengan temperatur yang jauh lebih tinggi daripada yang dilakukan pada tempat pembakaran di Asia Tenggara, piring-piring dan mangkuk-mangkuk ini menjadi barang-barang yang tinggi nilai serta statusnya," imbuh Reid.

Di Filipina, Sulawesi, dan Maluku, keramik dari Cina yang berupa piring dan mangkuk, ditempatkan di sekitar jenazah saat pemakaman untuk menemani yang mati menuju perjalanannya ke dunia lain.

Baca juga: Australia-Indonesia Lakukan Patroli di Laut Cina Selatan
Sementara di Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan, keramik campur kaca digunakan sebagai penghias masjid, makam, dan istana. Namun, bagi orang-orang kaya di Asia Tenggara, keramik Cina tersebut justru dipakai sebagai tempat minum dan makan.

Dalam bukunya yang lain, yakni Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global (2014), Reid juga menyinggung perdagangan lada dan kayu sapan. Menurutnya, kedua komoditas ini adalah produk yang menonjol dalam perniagaan di Nanyang atau Laut Cina Selatan.

Saking banyaknya komoditas lada dan kayu sapan ini dikirim ke Cina, pada abad ke-15 keduanya memenuhi gudang-gudang pemerintah sehingga dipakai untuk membayar sebagian gaji ratusan ribu pejabat dan tentara Cina.   

Aktivitas perdagangan yang berlangsung selama ratusan tahun, membuat kebudayaan sejumlah negara berakulturasi. Denys Lombard mencatat dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia (2005), kebudayaan Cina telah lama memengaruhi negeri-negeri di sekitar Laut Cina Selatan.

“[Berupa] adat-istiadat, kepercayaan, dan teknik-tekniknya, melalui suatu proses asimilasi dan saling pengaruh yang berlangsung selama berabad-abad," tulis Lombard.

Kemesraan di kawasan sekitar Laut Cina Selatan sebagai jalur perniagaan penting bagi sejumlah negara di Asia Tenggara, Cina, Arab, India, dan Eropa, bukan berarti tanpa perseteruan dan konflik.

Namun, yang perlu dicatat adalah saat itu peperangan lebih menekankan pada raihan tawanan daripada harta benda, terutama bagi negara-negara Asia Tenggara. Jumlah penduduk yang belum banyak membuat mereka berlomba memburu tawanan untuk dijadikan sebagai budak.

Sekali waktu, seorang laksamana Belanda memprotes seorang bangsawan Melayu (penguasa Johor) yang menjadi sekutunya yang terlihat ragu memasuki palagan.

“Di sini setiap orang kaya atau bangsawan justru harus membawa sejumlah orang, dan masing-masing takut kehilangan sahayanya, yang merupakan kekayaan mereka satu-satunya," jawab sang bangsawan seperti dicatat Reid.

LANJUTAN....
“Lapor yang mulia musuh sudah berhasil dilumpuhkan dan mundur. Akan tetapi musuh meninggalkan lima kapal terakhir di dalamnya ada sekitar 200 pasukan musuh yang tetap tinggal sebagai mata-mata.”
“Baik kalau begitu kerahkan semua armada perang terbaik kita. Keluarkan kekuatan dan peralatan serta teknologi terbaik yang kita miliki. Panglima! Panglima! ke mana Panglima. Panglima! Jenderal
Dengan derap langkah kaki tergesa-gesa seorang pria bertubuh besar lengkap dengan zirah perang dan tanda kebesaran memenuhi seragamnya masuk dengan disambut bunyi terompet pengawal istana dan dikawal oleh prajurit yang membawa panji kerajaan.
“Hamba panglima Zergon memberi hormat kepada Yang Mulia.”
“Cepat! Perintahkan semua armada perang dan seluruh bala tentara di seluruh negeri ini untuk bersiap perang! Awasi terus kemungkinan musuh kembali dengan seluruh kekuatan tempurnya. Halau mereka, aktifkan sistem pelindung.”
“Baik Yang Mulia.”
“Bagus. Cepat laksanakan!”

“Dan hei panglima Zergon bukankah kau panglima terbaik kerajaan?? Apa rencanamu untuk menang dalam perang kali ini”
“Maaf Yang Mulia hamba tidak pantas menerima pujian dari Yang Mulia. Maaf Yang Mulia untuk strategi perang seperti kebiasaan saya Yang Mulia ini adalah rahasia negara Yang Mulia. Hamba mohon permisi Yang Mulia.”
Namun rupanya si Seribu Muka yang ikut dalam pertemuan di aula itu. Diam-diam memisahkan diri dan melaporkan apa yang di dengarnya kepada perompak Xin
“Cepat... cepat.. cepat! Apa yang kau ingin katakan sebelum kau menemui penciptamu.”
“Akkkh... aaakh (jeritan menahan cekikan) si Seribu mata berkata dengan lirih.”Maafkan saya tuan. Maaf kalau rencana kita kembali gagal. Tapi saya punya ide brilian tuan.”
“Apa... Apa... Apa.. Cepat katakan! Atau kau ku jadikan makanan buaya.”
Si perompak Xin lalu melepas cekikannya dari muka seribu. Muka seribu kemudian menceritakan semua strategi yang ada dikepalanya.
Si muka seribu mengambil segelas air putih dan menarik nafas lalu mulai bercerita.
“Begini tuan. Kita biarkan Dis berperang melawan Ksatria Putih dan panji Hitam. Setelah mereka mulai lemah karena tenaga mereka yang terkuras dan athenia menjadi kacau kita serang mereka. Kita kirim surat agar Dis mencekal Ksatria Putih di Mekkah kita buat umat Islam marah besar.“
“Ummmmchahahahahahah..... Hihihihi..... bagus. Bagus aku suka idemu muka seribu. Aku tak heran mengapa kau disebut muka seribu. “
“Kenapa tuan?”
“Karena dibalik wajah dekilmu yang hitam jelek ternyata kau memiliki otak yang encer. Pantas saja kau jadi penjilat. Pekerjaan itu sangat cocok untukmu.
“Ummmmmmchahahahahhahaha.... Hihihihih.... Xixixi” pekik tawa jahat sang Perompak diikuti anak buahnya yang menertawai Si Muka Seribu.
“Baiklah kalau begitu aku akan menunggu sampai kau berhasil. Tapi awas! Jika kali ini kau gagal lagi maka kepalamu yang aku gantung di tembok ruangan ku.” (sambil memakan jari manusia)
Muka Seribu (menelan ludah)
BERSAMBUNG DULU YA GUYS......

Part 2
Maka kembalilah sang pengkhianat si Muka Seribu ke Athenia ia kemudian melaporkan perjalanannya kepada Dis.
“Hei Gulom saudaraku (Muka Seribu) kemana saja kau beberapa hari ini?”
“Maafkan hamba Yang Mulia Paduka Raja karena hamba tidak memberitahukan kepergian hamba kepada Yang Mulia. Atas inisiatif hamba sendiri karena kecintaan terhadap bangsa dan negaraku. Saya lantas pergi menyelidiki perompak Xin.”
“Wahai saudaraku sungguh mulia dan beraninya tindakanmu itu. Bukankah itu sama saja dengan mengundang kematianmu sendiri?”
“Benar yang mulia. Memang benar perjalanan hamba sangat beresiko dan bisa mengancam keselamatan hamba. Tapi demi tanah air hamba siap korbankan nyawa hamba.”
“Semoga Alloh merahmatimu. Katakan wahai saudaraku apa saja yang kau dapatkan dari perjalananmu.”
Maka si muka seribu mulai melancarkan aksinya mengadu domba antara Dis dan Ksatria Putih serta panji Hitam.
“Sebenarnya tuanku Yang Mulia Paduka Raja perompak negeri xin tidak bermaksud lancang paduka.”
“Apa maksudmu!”
“\Sebenarnya para perompak hanya terhasut oleh fitnah Ksatria Putih”
Lalu Muka seribu mengeluarkan sebuah surat dari perompak xin. Dengan hormat kepada Yang Mulia Paduka Raja.
“Sebelumnya kami meminta maaf karena terjadi kesalahpahaman yang kami lakukan hanya mengamankan wilayah kekuasaan kami. Beberapa waktu lalu kami menerima surat dari seseorang di Mekkah bernama Ksatria Putih. Dari informasinya itu kami mendapatkan bahwa Paduka Raja ingin merebut Pulau, kami jadi untuk mengamankan hak milik kami. Kami mengirim pasukan yang berpura-pura menyamar sebagai nelayan tradisional di perairan tersebut. Selain itu seorang yang bernama panji Hitam mengaku sebagai utusan kerajaan dan membawa plakat kesultanan ia  mengaku diperintahkan langsung oleh Yang Mulia Paduka Raja untuk memerangi Kerajaan Xin atas tuduhan kejahatan melakukan persekusi dan pembersihan etnis Uigh. Atas kesalahpahaman ini kami mengajukan nota keberatan atas protes negara Athenia dan meminta yang Mulia untuk membuat surat klarifikasi dan ganti rugi atas kerugian materil dan non-materil yang kami (Xin) alami akibat konfrontasi Laut Cina Selatan. Kami menunggu itikad baik Yang Mulia Paduka Raja melalui surat permintaan maaf dan ganti rugi 2x24 jam. Jika tidak kami akan membawa persoalan ini ke jalur hukum internasional. Sekian dan terima kasih” 
Dis (memegang surat sambil tangannya bergetar dan memerah). Setelah selesai membaca surat itu Dis menendang meja emas miliknya dan kembali duduk di singgasananya.
“Plak!”
“Kurang ajar!”
“Apa benar yang ditulis oleh panglima Xin itu!” (membentak dengan suara marah dan mata merah melotot)
“Ya Yang Mulia. Ampun jika hamba lancang Yang Mulia, namun kali ini hamba membenarkan.”
“Kurang Ajar!”
“Pati! Pati! Pati Dianus” (Pati = pimpinan wilayah, pejabat negara, asisten/orang kepercayaan Raja)
“Hamba memberi hormat Yang Mulia”
“Pati Dianus. Ku perintahkan kau untuk menangkap Si Kriminal Panji Hitam bawa ke hadapanku hidup atau mati!”
“Baik Yang Mulia. Perintah Yang Mulia akan segera saya laksanakan.”
“Perdana Menteri  Porus!.”
“Hamba Yang Mulia”
“Kirim surat pencekalan kepada Ksatria Putih di tanah Arab. Buat fitnah jika Ksatria Putih adalah teroris internasional yang kita cari. Sebar pengumuman di dalam dan luar negeri pemerintah akan memberikan 600 juta golden keping emas bagi siapa saja yang membawa kepala Panji Hitam ke istana Athenia.”

“Baik Yang Mulia. Amanah Yang Mulia akan saya laksanakan dengan baik yang Mulia.”

BERSAMBUNG DI HALAMAN SELANJUTNYA...
Novel : "THE NATION HOSTAGE" Oleh : Sidiq Akbar Nugraha

Athenia: “Bedebah kau! Jahanam. Aku telah memberikanmu kuasa atas diriku dan seluruh harta kekayaannku dan menjadikan mu pemimpin bagi rakyatku. Sekarang apa kau tega menjual ku?
Dis : “Maafkan saya ibu utangmu pada perompak-perompak itu sudah sangat banyak”
Seribu muka : “Sudahlah ibu diam saja! Ikuti saja apa kemauan perompak itu”

Athenia : “Pengkhianat kalian semua! Selama ini kalian tidur, makan di rumahku, kalian ku beri pekerjaan, sekolah, keamanan, kalian ku biayai hingga ke luar negeri dengan harapan kalian bisa membangun bangsa ini menjadi bangsa yang kuat dan besar. Tapi lihatlah apa yang kalian balas kepadaku”
*********************************
Perompak : (Memukul meja) “Aakh.... lu olang banyak bacot semua lah. Sekarang oe jadi murka! Sekarang lu olang oe kasih dua choice lah. 1. Bayar utang atau 2. Lu olang serahkan negara lu ke oe... pilih mana akh!!
Seribu muka : “Sabar tuan. Sebentar lagi kami pasti berhasil membawa ibu untuk ikut bersama tuan”
Perompak : “Dari ratusan tahun lalu sejak Kartanegara dari Singosari potong telinga oe punya utusan (Meng ki) lu punya ibu sangat cantik waktu masih muda sekarang setelah beberapa abad oe kembali lu punya ibu masih menarik. Dari dulu sampai nanti oe tetap ingin ibumu jadi milik oe.”
Kemudian dis pun kembali mencoba untuk membujuk ibunya sekali lagi.
Dis : “Bu, sudah bu nurut aja bu. Mereka juga punya klaim sejarah selama berabad-abad di Laut Cina Selatan. Mereka juga punya hak sama seperti kita.
Seribu muka : “Benar bu, mereka juga punya hak di Natuna. Kita tak bisa berbuat banyak selain mengajukan protes kepada mereka. Kalau pun hari ini kita melawan. Kita hanya membuang waktu mereka saja”
Athenia (Ibu pertiwi):  "Apa kalian bilang barusan???” Mereka juga punya hak. Aku yang melindunginya. Aku yang merawat dan membesarkannya, Dia tumbuh dewasa bersamaku!! Dengan seenaknya kalian bilang orang-orang asing itu punya hak atas wilayahku. Tidak!! Katakan kepada perompak itu demi Allah aku tak pernah ridho sedikitpun memberikan wilayahku walau mereka meminta hanya setetes atau sejengkal saja.

Dis kemudian memerintahkan ajudannya untuk menghadap ke pasukan perompak
Ajudan : “Maaf tuan. Sepertinya hari ini bukan hari yang tepat untuk berkunjung sebaiknya tuan pulang saja dulu. Sampaikan kepada majikan kalian ibu kami menolak untuk memenuhi permintaan kalian. Silahkan cari ikan di tempat lain saja.”
Dengan wajah marah dan kecewa para perompak
Perompak : “Baik! Hari ini oe sekali lagi pulang dengan tangan hampa sama seperti ratusan tahun yang lalu. Tapi ingat masalah ini belum selesai. Tunggu oe kembali. “
Armada kapal perompak itu pun pulang. Kapal pun mulai melaju. Terdengar sang kapten berteriak dari atas kapal kepada anak buahnya yang tersisa : “Hei, ruguo tamen gao zale. Nimen zhai zheli daiming!”

  • “Ha

Sabtu, 04 Januari 2020

Cerpen Jalan Hijrah Part 1 : Nikah

Hari ini tepat 4 tahun kami pacaran di masing-masing jari manis kami ada cincin bertuliskan nama kami berdua Adrian (rian) dan Anissa (ica) sebagai bukti cinta kami. Hubungan kami selalu romantis bagaikan baru jadian kemarin hampir tiap hari aku memberikan hadiah untuk anissa yang ku beli sesuai dengan isi dompetku. Meskipun itu bukan hari ulang tahun anissa di whatsapp kami pun penuh dengan kata-kata romantis panggilan ayah dan bunda. Namun akhir-akhir ini selama beberapa bulan Anissa terus gelisah memintaku untuk segera menikahinya. Sebagai seorang laki-laki aku mau saja melamarnya dan sudah niatku dari awal tapi sebagai pemuda miskin yang hanya bekerja sebagai pengawas teknisi PLN gaji ku tidak memungkinkan untuk menikah dalam waktu dekat. Apalagi ayahku hanya seorang penarik becak dan ibuku penjual gorengan. Mereka sudah mulai tua dan sakit-sakitan ibuku memiliki cita-cita ingin naik haji yang harus segera ku wujudkan. Tak ayal aku bekerja dari pagi hingga pulang larut malam demi bisa menabung untuk memberangkatkan ibu dan bapak naik haji. Aku juga harus membiayai pendidikan adik-adikku. Aku dan Anissa bagaikan antara langit dan bumi aku hanyalah teknisi listrik seorang pemuda miskin sedangkan Anissa anak orang kaya, ayahnya adalah bos perusahaan besi dan baja. Namun cinta tak memandang status meskipun hubungan kami selalu ditentang dan aku sering dihina dan dipandang sebelah mata oleh ayah Anissa namun kami tetap bertahan karena ada rasa nyaman yang kami rasakan di saat kami berdekatan satu sama lain dan rindu di saat kami berjauhan. Hari ini hari anniversary kami ke-4 tahun Anissa mengajakku untuk makan malam di sebuah restoran mahal. Sebuah tempat yang menurutku mewah dan tak bisa jika aku yang membayar untuk makan di tempat mahal karena gaji ku yang rendah. Untungnya setiap kali kami makan Anissa selalu mengerti. Tapi lama kelamaan sebagai seorang lelaki di satu sisi aku malu karena dibayarin makan oleh cewek. Tapi di sisi lain aku terpaksa harus mengelus dada dan terpaksa cuman bisa melihat Anissa terus mengeluarkan uang dari kartu ATM nya untuk membiayaiku karena keadaan ku yang serba tidak cukup. Ada perasaan malu sebagai seorang lelaki harusnya aku yang memenuhi kebutuhan Anissa atau paling tidak aku yang membelikan Anissa sesekali bukan malah sebaliknya. Aku merasa layaknya seorang lelaki murahan sejak mulai mendapat barang-barang mahal dari Anissa bahkan bukan cuman itu Anissa pun membelikan ku sebuah jam tangan mewah senilai 3,500.000U$$ dollar hadiah yang fantastis di hari ulang tahun ku. Anissa juga membeli sebuah rumah untuk pernikahan kami nanti dan sebuah apartemen untukku Anissa bahkan tiap hari meminjamkan mobilnya padaku. Aku sudah bilang sama Anissa :“Nis. Aa mohon sama anissa, jangan terlalu sering ngeluarin duit buat Aa. Aa malu Neng, nanti Aa dikira morotin duit Eneng sama papa dan mama Neng.”
“Ih.. kenapa sih Aa? Udah Aa nggak usah malu, nggak usah tensin. Ini semua Neng lakukan karena Neng sayang dan cinta sama Aa. Apapun akan Neng lakukan.”
“Inikan Neng lakukan demi masa depan kita nanti.”
“Iya Neng, Aa tau. Tapi Aa ini laki-laki Neng. Punya tanggungjawab untuk nafkahin Neng nanti.”
Sambil memegang tanganku dan menaruh di pipinya

“Udah Aa. Aa tenang aja itu tanggungjawab Aa setelah kita nikah nanti. Neng nggak akan larang Aa  untuk penuhi tanggungjawab Aa sebagai seorang suami. Tapi Neng nggak akan maksa kalau Aa nggak bisa atau Aa hanya bisa kasih Neng seadanya. Terserah apa kata orang, toh yang jalanin kita berdua. Asal sama Aa itu udah lebih dari cukup bagi Neng. Soal rezeki kita cari sama-sama.”
“Sekarang neng teh butuh kepastian Aa aja. Kapan atuh Aa lamar Neng??”
Sambil menelan ludah. Sebenarnya aku ingin sekali menikah. Tapi aku belum bisa sebelum memberangkatkan umroh kedua orangtuaku.
“Iya. Sabar neng. Aa tanya ambu dulu ya?”
“Iya Neng juga nggak paksa Aa untuk jawab sekarang. Tapi Neng cuman pengen lihat keseriusan Aa berjuang untuk Neng.”
“Iya Neng, Aa sayang banget sama Neng tapi neng mesti mengerti sebagai anak sulung dan laki-laki Aa punya tanggungjawab bahagiakan orangtua. Sekarang ambu sama bapak sudah tua sudah mulai sakit-sakitan Aa hanya pengen mewujudkan cita-cita mereka naik haji. Aa juga ingin terus berbakti sama mereka. Aa pengen membahagiakan mereka dengan beli rumah yang layak untuk mereka.”
“Kalau gitu biar Neng aja yang belikan rumah buat mereka. Ya. Boleh kan Aa. Aa nggak marahkan.”
“Jangan Neng ini tanggungjawab Aa.”

“Aa tersinggung ya?”
“Nggak Neng, Aa nggak tersinggung sama sekali, nggak. Aa cuman nggak mau ada penilaian dan konotasi negatif dari orangtua kamu ke Aa. Kalau selama ini Aa hanya manfaatin kamu doang.”

Malam hari aku pulang dengan muka kusut. Raut wajah murung membuat ibu bertanya kepadaku.
“Nak, kenapa muka kamu kusut seperti itu. Kamu punya masalah ya?”
“Nggak kok bu, nggak ada masalah.”
“Nak, kamu jangan bohong. Ibu ini yang melahirkan kamu jadi ibu tau semua sifat kamu. Nak, ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong.”


“Udah bu, nggak ada apa-apa kok.”
“Ya udah kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa. Kamu mandi dulu terus makan malam. Ibu udah masakin makanan kesukaan kamu.”
“Makasih ya bu.”
Ibu pun berlalu kembali ke kamarnya. Ada rasa penyesalan. “Ah kenapa aku harus berbohong pada ibu.” Kesal ku dalam hati. Lalu aku memanggil ibu ku kembali ku dudukan di kursi dan memijat kakinya setelah menghela nafas panjang aku mulai cerita pada ibu.
“Bu. Sebenarnya adrian lagi galau bu, Anissa meminta aku untuk segera melamarnya. Tapi aku belum bisa sebelum aku bisa memberangkatkan ibu dan bapak pergi umroh.”
“Udah nggak apa-apa kok, ibu dan bapak memang berpikir dari awal untuk hal seperti ini. Ibu dan bapak ikhlas kok kalau nggak jadi berangkat umroh.”
“Tapi bu..”
Bapak yang sedari tadi menguping pembicaraan kami keluar dan menyela.
“Udah Rian. Kamu dengar kata-kata ibumu kami berdua ikhlas kalau memang harus batal.”
“Nggak, pokoknya ibu dan bapak tetap jadi berangkat. Soal lamaran biar kita bicarakan setelah ibu sama bapak pulang dari tanah suci.”
Malam pun berlalu aku terus memikirkan bagaimana cara agar ibu bapak tetap umroh namun aku juga bigung jika terus di desak oleh Anissa untuk segera melamar. Tabunganku hanya cukup untuk memberangkatkan umroh ibu dan bapak. Alhamdulillah karena di PLN ada program umroh karyawan dan staff serta direksi pimpinan plus keluarga. Memang di setiap perusahaan BUMN selalu ada kegiatan akhir tahun biasanya paket jalan-jalan dan umroh bagi karyawan dan direksi yang beragama Islam, paket jalan-jalan dan wisata rohani ke Israel dan Vatikan bagi karyawan dan direksi yang beragama Nasrani serta paket liburan bersama seluruh karyawan, staff dan direksi PLN ke bali, lombok dan eropa. Tahun ini aku mendapat giliran tiket memberangkatkan umroh diriku plus 2 anggota keluarga karena bapak dan ibu masih hidup sudah waktunya untuk aku mewujudkan impian mereka pergi umroh bulan September ini.
Keesokan paginya jam 06.00 aku sudah harus berangkat kerja lebih cepat agar tidak terjebak macet. Sebelum ke kantor aku harus menjemputnya di rumahnya dan mengantarnya ke rumah sakit tempat ia bekerja. Maklumlah aku harus jadi sopirnya dan sebagai gantinya mobil pribadinya aku pakai ke mana-mana.
“Selamat pagi apa benar ini dengan saudara Adrian?”
“Iya pak benar dengan saya sendiri, ada apa ya pak?”

“Apa benar Anda keluarga Dennis Saputra?”
“Iya pak, ada apa ya pak?”
“Keluarga Anda mengalami tabrakan dan sekarang sedang di rumah sakit. Menurut para saksi anak Anda menabrak seorang pengendara motornya hingga tewas. Anda diharapkan segera datang ke kantor kepolisian guna penyelidikan lebih lanjut.”
“Sekarang adik saya ada di mana?”
“Sekarang adik Anda dalam keadaan tidak sadarkan diri dan dilarikan ke R.S Medika”
“Terimakasih.  Saya akan segera ke sana?”

“Ada apa sayang.”
“Aduh.. sepertinya kita harus buru-buru ke rumah sakit tempat kamu deh sayang.”
“Loh emangnya ada apa. Bukannya kita mau sarapan  dulu kan  kamu belum makan?”
“Adik aku si Dennis kecelakaan.. sekarang dia ada di rumah sakit Medika.”
“Astaga.. duh.. kamu yang sabar ya sayang. Sebentar aku telepon frans dulu kumpulin dokter dan perawat terbaik. Kamu nggak usah khawati Inshaallah dennis baik-baik aja.”

“Assalamu alaikum ambu, abah bagaimana keadaan Dennis.”
“Adrian... adik kamu.” Suara tangis ibu aku pun langsung memeluk ibuku.
“Gimana dok, keadaan adik saya?”
“Adik Anda baik-baik saja hanya kepalanya agak retak untungnya tidak sampai mencedarai otaknya. Perlu tindakan operasi untuk memulihkan kesadaran pasien. Sebaiknya Anda  segera konfirmasi pembayaran agar tindakan operasi bisa dilakukan secepatnya”
“Makasih dok.”
“Aduh adrian. Bagaimana ini kepala bapak mau pecah lihat kelakuan nakal adik kamu tuh. Sekarang adik kamu kritis dan keluarga korban meninggal yang ditabraknya minta tanggungjawab Rp. 10 Juta kalau nggak perkara tetap di proses dan si Dennis bakal masuk penjara. Gimana nih Adrian!!”
“Bapak yang sabar ya pak, bu.”
“Gimana mau sabar Adrian!! Gimana mau sabar. Makan aja kita pas-pasan apalagi ganti rugi 10 juta dan bayar rumah sakit ini???”
“Soal itu nanti Adrian yang ganti. Pakai gaji adrian”
Selama seminggu aku pulang balik rumah sakit dan kantor kepolisian mengurus Dennis.
“Bagaimana sus. Total biaya rumah sakit semua berapa?”
“Untuk biaya operasi bedah Rp. 25.000.000,- untuk menginap di kamar VIP selama seminggu Rp. 85.000.000,- total Rp. 110.000.000,- ya pak. Untuk pengguna BPJS gratis ya pak hanya iuran 50% ya pak. Untuk pembayaran bisa di langsung atau via ATM”
“Makasih sus. Ya Allah ke mana aku harus pinjam uang sebanyak itu?”
Karena sudah masuk waktu dzuhur aku ke mesjid untuk sholat. Selesai sholat aku langsung ke kepolisian dan kejaksaan untuk mengatur damai dengan keluarga korban dan memberikan uang sebesar 10 juta untuk ganti rugi. Setelah selesai aku langsung mencari pinjaman dana dan menjual motor yang aku punya dan kembali ke rumah sakit.
“Jadi gimana sus. Uangnya sudah ada saya mau bayar biaya rawat adik saya.” Sambil menyerahkan amplop berwarna coklat yang sangat tebal berisi uang aku memegang kepala dan mengernyitkan alis. “Ya Allah terpaksa uang untuk umroh bapak sama ibu aku pakai.”
“Tunggu sebentar ya mas. Saya cek dulu.”
“Maaf mas, sistem kami sepertinya sudah mengkonfirmasikan kalau mas sudah melakukan pelunasan sebesar Rp. 110.500.000.- dengan kode registrasi PK 009.0737.101 pada tanggal 21 Agustus 2019. Pukul 10.00 WIB atas nama N.Y Anissa Lestari dan T.N Adrian Wijaya.”
“Udah lunas ya mbak. ”
“Astaga Anissa.” gumam ku dalam hati
“Makasih mbak”
“Terimakasih karena telah memilih rumah sakit kami sebagai mitra sehat Anda.”

**********************************************************************
“Halo mas. kamu lagi dimana?”
“Aku baru selesaikan administrasi rumah sakit.”
“Oh.. gitu. Tunggu aku di lobi ya mas. kita makan siang bareng ini masih sisa satu pasien lagi. Sebentar ya mas, nggak lama kok”
“Iya. Aku nggak bakal kemana-mana kok sampai pacar kesayangan aku turun.”

“Ihh.. gombal. Love you.”
“Love you to.
“Ummmmch”
Aku hanya tersenyum. Selesai Anissa menutup ponselnya aku menghela napas. Aku harus jujur sama Nisa. Kami pun pergi makan siang. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke tempat makan favorit Nissa. Nissa penggemar masakan korea dan jepang sampai di resto aku biarkan Nissa mencari tempat duduk  setelah duduk nyaman kami pun mulai ngobrol.
“Eh kamu tau nggak sayang ini tempat makan favorit aku dari aku kuliah dulu.”
“Kamu mau pesan apa?”
“Terserah kamu deh.
“Mas pesan kimchi spesial ekstra pedas, bibimbap, bulgogi dua porsi sama minuman.”
“Sayang”
“Eh.. sayang tau nggak aku sudah siapin sovenir pernikahan kita lucu kan.” Sambil menunjukkan sebuah bingkisan parsel dengan aksesoris bernilai jutaan dollar dan patung pengantin bernamakan Adrian dan Anissa. Karena Anissa terlalu cerewet aku hampir lupa dengan apa yang aku ingin sampaikan.
“Sayang... bisa tenang sebentar nggak. Aku pengen ngomong.”
“Ya udah ngomong aja honey bee ku”
“Nis... kamu kan yang bayar semua biaya rumah sakitnya Dennis. Aku kan udah bilang aku cuman jaga supaya orangtua kamu nggak mikir yang macem-macem ke aku. Nanti mereka kira aku manfaatin kamu.”
“Kenapa sih!! Selalu gini biar bagaimana pun sebentar lagi adik-adik kamu jadi adik-adik aku juga. Orangtua kamu jadi orang tua aku juga. Sebentar lagi kita jadi keluarga besar. Kenapa kamu marah ya.”
“Jelas salah!”
“Ya udah aku mau pulang aja.”
“Nis.. Nis... udah dong jangan ngambek. Oke maafin aku oke,”
Selesai makan aku langsung mengantar anissa kembali ke rumah sakit. Seminggu kemudian setelah Dennis sembuh. Ibu dan bapak berangkat umroh. Sore ini aku juga harus ke eropa mendampingi bosku untuk berkunjung ke Pembangkit listrik tenaga udara di Belanda dan Skotlandia ini kunjungan pertamaku ke luar negeri setelah naik jabatan jadi staff manajer.

“Kamu hati-hati ya sayang.”
“Iya. Roni kamu jangan nakal, sekolah yang benar, kerjain P.R, sholat, ngaji. Nurut sama kak Nisa”
“Iya bang.”
“Nis... titip adik-adikku ya. Seminggu lagi aku balik.”
“Dah sayang.”
“Dadah”
Taksi pun melaju menuju ke airport aku melambaikan tangan ke mereka lewat jendela.
BERSAMBUNG.....













KESUCIAN YANG TERGADAIKAN

KESUCIAN YANG TERGADAIKAN PENULIS Sebenarnya aku benci bila harus menceritakan kembali kisah hidupku yang sangat menyedihkan ini. Sering...